Menikah

Aku belum menikah, dan sepertinya belum ingin menikah. Tapi beberapa temanku sudah menikah, ada yang sudah memiliki anak bahkan, dan di sini aku sebagai pendengar dan juga penonton.

Menikah, menyatukan dua kepala, bahkan di beberapa hal juga menyatukan dua keluarga. Keren dan berat. Perlu pemikiran yang dewasa, tidak bisa menikah hanya karena cinta atau umur sudah tua, apalagi kalau hanya modal napsu aja, jangan sampai.

Beberapa pernikahan temanku nampak berjalan mulus, ada yang memang tidak mulus. Tapi semulus-mulusnya kehidupan pernikahan, pasti ada aja bumbu pahitnya, dan ya nggak papa. Lidah kita aja diciptakan untuk merasakan banyak rasa, dan rasa yang enak biasanya adalah perpaduan dari beberapa rasa. Betul tidak?

Semakin bertambah umur biasanya kita semakin selektif tentang hal ini. Dari segi pendidikan, pekerjaan, umur, bahkan bibit bobot keluarga kadang menjadi pertimbangan. Aku sendiri realistis, ya kalau mampu inginnya mendapat pasangan yang berpendidikan tinggi, pekerjaan mapan, keluarga yang sejahtera, tapi kan, hidup kadang ada lika-likunya, nggak bisa semua sesuai keinginan kita, lagian kita siapa? Jadi versi terbaik dulu deh mendingan.

Kehidupan setelah menikah tentu lebih rumit, ada yang rumit karena merantau, ada yang tinggal sama orangtua, ada yang harus hidup berdua karena orangtua sudah tidak ada, dan dari semuanya itu memiliki konsekuensi masing-masing. Kehidupan setelah menikah jelas berbeda dengan ketika kita masih sendiri, kita harus menyatukan pendapat, tidak bisa maunya sendiri, ada yang perlu dijaga.

Pilihan, semua tergantung pilihan. Tapi yang jelas, menikah berarti siap untuk menyelesaikan banyak hal bersama-sama.

Pesanku kepada diriku akhir-akhir ini adalah “kamu harus selesai dengan dirimu sendiri sebelum menikah”. Intinya aku ingin melakukan banyak hal yang mungkin tidak dapat aku lakukan ketika sudah menikah. Setidaknya aku sudah tidak penasaran. Tapi, kalau memang hal yang aku inginkan bisa diselesaikan bersama dengan pasangan, ya kenapa tidak?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penghakiman

Tiba-Tiba Mikir

Natal