Anak Pariwisata

Halo semuanya, mengingat aku adalah anak pariwisata yang kata orang kerjaannya jalan-jalan padahal ya lumayan, namanya juga hidup masa mau dibikin sepaneng terus, kan tidak sehat bestie.

Mau cerita dikit tentang perjalanan perkuliahanku di dunia pariwisata, sungguh banyak sekali yang bilang “sekolahnya enak ya nggak mikir, jalan-jalan terus” atau “Maria santai banget ya kuliahnya”. Loh loh loh ya memang betul! Tapi, perlu kalian ketahui, tidak semuanya mudah bro, ada juga pahit ketirnya, seperti contoh harus bertahan di tengah-tengah gempuran cewek-cewek trendi nan mulus elok rupanya, dan kerja atau training di hotel yang gitu deh tidak mau saya ceritakan detail.

Jadi aku emang orangnya tuh tidak suka mengumbar kepahitan yang ngeluh soal bab kuliah gitu, karena ya apa ya, dulu aku sempat berpikir bahwa biar saja orang tau enaknya jadi aku, biar hidup mereka tidak tambah beban harus membaca curhatanku yang pilu. Cuman ending-nya aku suka semacam direndahkan gitu sih kayak dibilang jarang mikir, leha-leha, tapi yo rapopo, ming kadang yo nggo terluka barang. Wkwk

Cerita singkat perjalanan kuliahku adalah dimulai pada tahun 2014, di Yogyakarta. Aku memutuskan kuliah di STIPRAM a.k.a Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta, dengan program sarjana yang bisa ditempuh selama 3,8 tahun, SKS di sana paketan, jadi setiap semester kelasnya sama dan teman-temannya pun sama, kalaupun ada tambahan biasanya dari kakak tingkat yang cuti di tahun sebelumnya. Sama seperti kampus pariwisata lainnya, di sini kami memakai seragam, sesungguhnya ini cukup berat mengingat aku yang ingin memakai pakaian bebas ke kampus. Tapi sungguh tak terduga, di perjalanan aku malah suka, karena nggak perlu mikirin outfit harian ke kampus, dan semuanya nampak sama, nggak terlalu kelihatan mana yang kaya mana yang b aja. Jadi ndak perlu minder gitu lho.

Selama kuliah di STIPRAM, aku berjumpa dengan beragam teman, hampir dari seluruh provinsi di Indonesia ada di sini, ya mengingat kampus pariwisata nggak banyak ditambah Yogyakarta emang Kota Pelajar, jadi pasti banyak yang sekolah di sini. Selain kuliah di kelas, kami juga sering kuliah di luar kelas, seperti misalnya kuliah di salah satu tempat wisata, jadi kuliah sambil healing kalau kata anak muda masa kini. Selain itu kami juga ada beberapa program kampus yang wajib dilakukan, yaitu membuat jurnal dalam dan luar negeri. Kalau yang dalam negeri itu bebas, bisa di mana aja tapi untuk tema dipilihkan kampus, ada lima tema yang bisa diambil dan harus linear dengan jurnal luar negeri. Misal nih, jurnal dalam negerinya bahas soal objek wisata, nah jurnal luar negerinya pun harus sama, bahas soal objek wisata juga, dan itu harus real a.k.a kita terjun langsung ke lokasi.

Kalau bahas jurnal nih, kampus juga nggak kurang-kurang ngasih program biar kami enak ngerjain jurnalnya. Ada wisata dalam dan luar negeri yang tidak wajib diikuti tapi kalau mau ikut juga boleh banget, dengan catatan bayar sendiri. Cuman saranku sih untuk jurnal dalam negeri lebih baik kalian mengulas tentang daerah kalian masing-masing, supaya semakin dikenal. Lalu untuk jurnal luar negeri, kita bisa ambil salah satu program gratis dari kampus, bisa ambil double degree, training hotel, atau student exchange. Waktu aku dulu bisa ambil tga-tiganya jika mau dan mampu, karena memang untuk program di atas harus ada seleksinya.

Berbicara soal program dalam dan luar negeri yang diadakan kampus, saranku kalian ambil sebanyak-banyaknya, untuk perkuliahan di kelas ketika kalian sedang melakukan program luar negeri bisa dilakukan secara online. Jadi semuanya tetap bisa kita lakukan bersamaan, tapi memang harus ada yang dikorbankan ya, karena yang namanya kuliah offline sama online pasti beda. Tapi semakin banyak pengalaman di luar kelas, tentu semakin banyak ilmu. Aku sendiri dulu ambil program training dalam negeri di Dinas Pariwisata DIY, untuk yang luar negeri aku ambil training hotel tiga bulan di Thailand dan student exchange selama satu bulan di Malaysia. Kuliah online tetap jalan, enak!

Oh iya selain dua jurnal di atas, kita juga tetap ada Tugas Akhir ya, skripsi gitu, dan ini aku saranin di dalam negeri aja biar tidak ribet kalau harus bolak-balik.

Apalagi ya?

Udah sih ya kayaknya.

Ya intinya gitu ygy sedikit tentang perjalananku sebagai anak pariwisata. Tentang direndahkan sih aku lebih milih untuk diam dan curhat ke sesama anak pariwisata, tunjukin aja kalau kita bisa jadi versi terbaik di bidang kita. Dan, belajar tidak merendahkan juga, karena aku yakin apapun jurusan kuliah yang diambil, atau apapun pekerjaan yang kalian tekuni pasti ada suka dukanya, soal pendapat orang, ya biarkan. Aku pernah dapat quote ketika jajan, penjualnya bilang “awakdewe sek nglakoni kok tonggo sek acc”, artinya kita yang menjalani kok tetangga yang mengiyakan, pokoknya tidak perlu banget-banget mikirin omongan orang lain. Oke? Oke sih kalau aku.

Nah, berhubung aku adalah anak pariwisata, aku akan mengisi blog ini dengan beberapa cerita tentang perjalanan wisataku, khususnya wisata mandiri alias solo travelling. Besok ya, tagih aja misal kok aku tidak upload-upload.

Cukup sekian dan sudah dulu ya, happy life!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penghakiman

Tiba-Tiba Mikir

Natal