Cut Off

Salah satu hal yang dua tahun terakhir ini aku lakukan adalah perilaku cut off. Perilaku yang aku pilih atas dasar mental health. Kalau dulu nih aku sambil nangis-nangis milih hal ini, sekarang aku nulisnya sambil ketawa. Lucu emang, sebuah pilihan yang cukup bukan aku sekali. Dan sebetulnya aku kadang menyesal melakukan hal ini, tapi kadang merasa happy juga karena sekarang aku merasa lega dan sepertinya worth it.

Kita bedah dulu ya. Jadi cut off yang aku maksud di sini adalah, perilaku memutuskan hubungan dengan orang lain. Perilaku yang tidak baik. Perilaku yang seharusnya tidak aku lakukan. Perilaku yang alangkah baiknya yang aku cut off itu bukan orangnya, tapi tingkahnya. Tapi susah sekali rasanya. Karena biasanya itu sepaket.

Banyak hal yang aku singkirkan dengan modal pemikiran untuk kesehatan mentalku, beberapa aku sesali, beberapa aku ikhlaskan untuk pergi, tapi aku happy. Menurutku aku jauh lebih baik dari dua tahun yang lalu, mataku nggak lagi sembab setiap bangun tidur, otakku nggak banyak mikir hal-hal yang belum terjadi. Beberapa hal emang nggak perlu direncanakan.

Dua tahun sepertinya sudah cukup. Sepertinya sekarang aku sudah kembali. Ya meskipun aku kemarin-kemarin sempet mikir “ini aku sekarang introvert apa gimana ya?” tapi ujung-ujungnya aku sadar kalau aku cuman lagi berproses aja, quarter life crisis emang beneran ada sih. Dan kalau ada yang mikir aku baik-baik aja selama ini, aku cukup bersyukur.

Di masa quarter life crisis tiap-tiap dari kita sedang dibentuk, ada yang bentuknya mirip dengan bentuk sebelumnya, ada yang bentuknya benar-benar berbeda. Kamu yang mana?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penghakiman

Tiba-Tiba Mikir

Natal